Tangerang, kabarbahri.co.id – Kamis. 08/10/2026, PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) menerapkan teknologi surface desander untuk mengatasi persoalan pasir terproduksi pada Sumur N-317L di Lapangan Nilam, Wilayah Kerja (WK) Sanga Sanga, Kalimantan Timur.
Berdasarkan keterangan PHSS, penerapan teknologi tersebut membantu meningkatkan rata-rata produksi minyak Sumur N-317L dari 72 barel per hari (barrels of oil per day/BOPD) menjadi 159 BOPD.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan produksi pada lapangan migas yang telah memasuki fase mature. Pada kondisi tersebut, salah satu tantangan yang dihadapi adalah sand production, yakni pasir dari reservoir yang ikut terbawa bersama fluida produksi menuju permukaan.
Jika tidak ditangani dengan tepat, pasir dapat mengganggu aliran produksi dan memberikan dampak terhadap fasilitas serta peralatan operasi. Karena itu, pengendalian pasir menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kesinambungan produksi dan keandalan fasilitas migas.
Penggunaan surface desander sendiri bukan merupakan pendekatan baru bagi PHSS. Publikasi teknis Indonesian Petroleum Association (IPA) pada 2025 mencatat penerapan teknologi tersebut di lingkungan PHSS sebagai salah satu alternatif penanganan pasir pada sumur yang menghadapi keterbatasan metode sand control.
Teknologi tersebut bekerja dengan prinsip cyclone separator untuk memisahkan pasir dari fluida produksi.
Manager PHSS Field Teddy Indrawan mengatakan penerapan teknologi di Sumur N-317L merupakan bagian dari strategi perusahaan menghadapi tantangan produksi pada lapangan yang telah berumur panjang.
“Kami menerapkan inovasi dan teknologi sebagai langkah strategis Perusahaan dalam menahan laju penurunan produksi, meningkatkan recovery rate, serta mempertahankan tingkat produksi lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan, khususnya WK Sanga Sanga,” ujar Teddy dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10/2026).
Menurut Teddy, surface desander bekerja dengan memanfaatkan gaya sentrifugal untuk memisahkan partikel pasir yang terbawa dalam aliran produksi. Partikel yang lebih berat dipisahkan dan dikumpulkan, sementara fluida produksi diteruskan ke proses berikutnya.
Pasir yang terkumpul kemudian dipindahkan secara berkala untuk dikelola sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Pada Sumur N-317L, keberadaan pasir sebelumnya menjadi salah satu faktor yang membatasi optimalisasi produksi. Meski telah menggunakan perangkat penyaring pasir, masih terdapat pasir yang mencapai permukaan sehingga diperlukan metode tambahan untuk mengendalikan material tersebut.
PHSS kemudian melakukan kajian terhadap karakteristik pasir, kondisi sumur, serta berbagai pilihan teknologi penanganan pasir. Dari kajian tersebut, surface desander dipilih karena memungkinkan pasir dipisahkan di permukaan sebelum fluida produksi melanjutkan prosesnya.
“Kami mengkaji karakteristik pasir, kondisi sumur, serta pilihan teknologi penanganan pasir. Hasilnya mengarah pada penggunaan surface desander sebagai solusi untuk Sumur N-317L karena memungkinkan pasir yang terbawa bersama aliran produksi dipisahkan di permukaan sebelum fluida produksi melanjutkan prosesnya,” jelas Teddy.
Dalam penerapannya, PHSS mencatat sekitar 5–7 kilogram pasir per hari berhasil dipisahkan dan kemudian dikelola sesuai prosedur. Kondisi fasilitas juga dipantau secara berkala untuk memastikan penerapan teknologi tidak mengganggu keandalan operasi.
Publikasi teknis IPA sebelumnya juga mencatat kisaran pengumpulan pasir 5–7 kilogram per hari serta tidak ditemukannya persoalan integritas peralatan pada kasus penerapan surface desander di PHSS.
Bagi PHSS, pengendalian pasir tersebut tidak hanya berkaitan dengan kelancaran produksi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mempertahankan produktivitas aset migas yang telah memasuki fase mature.
Pendekatan berbasis teknologi memungkinkan perusahaan menyesuaikan metode pengelolaan sumur dengan kondisi reservoir dan karakteristik produksi. Dengan demikian, kendala operasional dapat ditangani tanpa mengabaikan aspek keselamatan, keandalan fasilitas, dan keberlanjutan operasi.
“Kami melihat keberhasilan penerapan surface desander di Sumur N-317L menjadi dasar bagi upaya optimalisasi produksi sumur-sumur migas yang sangat penting dalam mendukung ketersediaan dan ketahanan energi nasional, terutama dari Wilayah Kerja Sanga Sanga,” kata Teddy.
PHSS merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) yang berada di Zona 9 dan mengelola operasi hulu migas di WK Sanga Sanga, Kalimantan Timur. WK tersebut mencakup sejumlah lapangan, antara lain Mutiara, Pamaguan, Badak, Nilam, dan Semberah.
Data teknis IPA menyebut WK Sanga Sanga telah dikembangkan sejak 1968 dan menghadapi tantangan sand production, terutama pada lapangan yang telah memasuki fase mature.
Di sisi lain, PHSS juga terus mengembangkan penerapan teknologi pada kegiatan operasionalnya. Pertamina Hulu Indonesia mencatat perusahaan memanfaatkan berbagai teknologi dan inovasi untuk mengoptimalkan produksi, termasuk pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik lapangan.
Penerapan surface desander di Sumur N-317L pada akhirnya memperlihatkan bahwa optimalisasi lapangan migas tidak hanya bergantung pada pengeboran baru. Inovasi pada sumur dan fasilitas yang telah ada juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas aset serta mendukung kesinambungan produksi migas nasional.Di sisi lain, PHSS juga terus mengembangkan penerapan teknologi pada kegiatan operasionalnya. Pertamina Hulu Indonesia mencatat perusahaan memanfaatkan berbagai teknologi dan inovasi untuk mengoptimalkan produksi, termasuk pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik lapangan.
Penerapan surface desander di Sumur N-317L pada akhirnya memperlihatkan bahwa optimalisasi lapangan migas tidak hanya bergantung pada pengeboran baru. Inovasi pada sumur dan fasilitas yang telah ada juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas aset serta mendukung kesinambungan produksi migas nasional.
Penutup.
Erick. H















