Cilegon – kabarbahri.co.id SDN Belumbang dihadapkan pada kebutuhan mendesak penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) seiring meningkatnya jumlah peserta didik setiap tahun. Kondisi tersebut memunculkan dorongan agar pemerintah daerah hingga kalangan industri melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) tidak lagi memandang pembangunan fasilitas pendidikan sebagai agenda pelengkap, melainkan kebutuhan prioritas.
Kepala SDN Belumbang, Uung Rosdiana, menegaskan keterbatasan ruang belajar saat ini mulai berdampak terhadap efektivitas proses pembelajaran di sekolah. Hal itu disampaikannya saat ditemui tim media bersama jajaran dewan guru, Kamis (07/05/2026).
“Sekolah kami saat ini memiliki 12 rombongan belajar. Dengan jumlah siswa yang terus bertambah dan kondisi lingkungan masyarakat yang cukup padat, penambahan ruang kelas baru sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting,” ujar Uung.
Menurutnya, kebutuhan ruang belajar bukan sekadar persoalan fisik bangunan, melainkan menyangkut kualitas pendidikan yang diterima siswa. Di tengah tuntutan peningkatan mutu pendidikan dasar, keterbatasan sarana dinilai dapat menghambat terciptanya suasana belajar yang nyaman dan kondusif.
Ia berharap Pemerintah Kota Cilegon, khususnya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi tersebut. Terlebih, pembangunan infrastruktur pendidikan kerap menjadi indikator komitmen pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
“Fasilitas yang memadai tentu sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan. Karena itu kami berharap ada perhatian nyata terhadap kebutuhan ruang kelas baru di sekolah kami,” katanya.
Sorotan terhadap kebutuhan RKB di SDN Belumbang juga menjadi refleksi atas tantangan pemerataan fasilitas pendidikan di Kota Cilegon. Di tengah geliat industri dan besarnya potensi CSR perusahaan, dunia pendidikan dinilai seharusnya menjadi salah satu sektor utama yang mendapatkan dukungan berkelanjutan.
Pihak sekolah menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor industri menjadi langkah penting agar pembangunan sarana pendidikan tidak berjalan lamban. Dewan guru SDN Belumbang bahkan menyebut pembangunan ruang kelas baru sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak generasi penerus yang lebih berkualitas.
“Pendidikan adalah pondasi masa depan bangsa. Karena itu kami berharap semua pihak dapat ikut peduli terhadap kebutuhan fasilitas sekolah,” ujar salah satu guru.
Di sisi lain, lambannya respons terhadap kebutuhan fasilitas pendidikan kerap memunculkan pertanyaan mengenai skala prioritas pembangunan daerah. Ketika angka peserta didik terus meningkat, sekolah negeri di wilayah padat penduduk justru masih dihadapkan pada keterbatasan ruang belajar yang mendasar.
Sementara itu, tim Comunitynews telah berupaya meminta konfirmasi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon terkait usulan pembangunan RKB di SDN Belumbang. Namun hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat tanggapan resmi atas pesan konfirmasi yang dikirimkan.
Di akhir penyampaiannya, pihak sekolah berharap usulan pembangunan RKB tidak berhenti sebatas wacana administratif, melainkan dapat segera direalisasikan demi menunjang kenyamanan dan kualitas belajar siswa.
“Semoga ada tindak lanjut dalam waktu dekat agar kebutuhan ruang kelas baru di sekolah kami bisa segera terpenuhi,” tutup Uung Rosdiana.
(Ganjar)















