CILEGON — kabarbahri.co.id Konsolidasi politik di tubuh Kota Cilegon memasuki fase yang lebih artikulatif. Dalam Musyawarah Anak Cabang (Musancab) yang menghimpun struktur dari delapan kecamatan dan 43 kelurahan, Ketua DPC, , melontarkan garis komando yang tidak sekadar normatif, tetapi sarat tekanan target dan kritik kebijakan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Gebrakan Reno Yanuar: Musancab PDI-P Cilegon dan Ambisi Menggenggam Kembali Empat Kursi

Di hadapan kader, Reno menegaskan ambisi partainya untuk kembali merebut minimal empat kursi di DPRD Kota Cilegon pada Pemilu 2029—angka yang ia sebut bukan ilusi, melainkan pijakan historis. “Kita pernah di titik itu, bahkan memimpin DPRD. Maka target ini realistis,” ujarnya, dengan nada yang menggabungkan optimisme dan tuntutan kerja politik yang lebih terukur.

Musancab, dalam tafsir Reno, bukan sekadar forum rutin, melainkan titik tolak konsolidasi ulang mesin partai. Ia mengisyaratkan bahwa struktur PAC hingga ranting tidak boleh lagi bergerak sporadis, melainkan terorkestrasi dalam satu ritme: merebut kembali kepercayaan publik yang dinilainya sempat tergerus.

Politik Generasi Baru

Di tengah lanskap politik lokal yang kerap stagnan, Reno membuka ruang bagi generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial—untuk masuk dalam orbit kekuasaan partai. Bagi dia, regenerasi bukan pilihan kosmetik, tetapi kebutuhan strategis.

“Anak muda Cilegon hidup di tengah ekosistem industri dan informasi. Mereka tidak bisa lagi dipinggirkan,” katanya.

Langkah ini terbaca sebagai upaya menyegarkan struktur sekaligus merespons perubahan karakter pemilih yang semakin kritis, cepat, dan tidak mudah dikooptasi oleh pendekatan politik konvensional.

Pendidikan dan Kritik atas Praktik Titipan

Namun, pidato Reno tidak berhenti pada strategi elektoral. Ia menyentil salah satu persoalan laten di Kota Cilegon: akses pendidikan yang dinilai masih dibayangi praktik tidak sehat.

“Jangan sampai yang berprestasi tersingkir karena tidak punya kedekatan. Sistem titipan itu harus diakhiri,” tegasnya.

Pernyataan ini mengarah pada kritik terhadap praktik patronase dalam sistem pendidikan—isu yang hampir saban tahun mencuat tanpa penyelesaian struktural.

Paradoks Kota Industri

Sorotan Reno kemudian bergerak ke ironi yang lebih luas: status Cilegon sebagai kota industri yang belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.

“Ini kota industri, tapi pengangguran masih tinggi. Kalau pemimpin tidak becus, harus dikritik,” katanya, tanpa menyisakan ambiguitas.

Pernyataan itu menarik, mengingat kritik tersebut tetap ia lontarkan meski kepala daerah berasal dari partai yang sama. Sebuah sinyal bahwa disiplin politik internal, setidaknya secara retoris, hendak ditegakkan.

Tiga Agenda Prioritas

Dalam kerangka programatik, Reno memaparkan tiga fokus utama yang akan menjadi garis perjuangan partai: akses permodalan tanpa bunga bagi masyarakat dan UMKM, percepatan pembangunan infrastruktur hingga wilayah pinggiran, serta pembenahan layanan pendidikan dan kesehatan.

Ia bahkan menyisipkan kritik gaya lama birokrasi. “Pejabat jangan terlalu banyak rapat. Turun, lihat rakyat bisa makan atau tidak,” ujarnya, dengan nada yang mengandung sindiran sekaligus tuntutan kinerja.

Target Elektoral Spesifik

Untuk daerah pemilihan Jombang–Purwakarta, Reno memasang target yang lebih agresif: dua kursi dari sebelumnya satu. Angka ini, jika tercapai, akan menjadi indikator efektivitas konsolidasi yang baru saja dimulai.

Dengan nada yang tegas, kritik yang terbuka, dan target yang terukur, Musancab PDI-P Cilegon kali ini bukan sekadar agenda internal. Ia menjelma menjadi sinyal awal bahwa kontestasi menuju Pemilu 2029 telah mulai dipanaskan—lebih dini, lebih keras, dan dengan taruhan legitimasi yang tidak kecil.

(Ganjar)

Reporter: Jurnalis :