Kabar Bahri
Mengabarkan fakta Nusantara
16 April 2026
Facebook
Twitter
Instagram
Nasional
Daerah
Pemerintahan
PEMDES
Politik
MILITER
Hukum & Kriminal
Umum
Olahraga
Kesehatan
Hot News
Ketua DPRD Lombok Timur Ikuti Retret Lemhanas, Perkuat Kepemimpinan dan Wawasan Kebangsaan
Jual Obat Keras Tanpa Izin, Seorang Pria Ditangkap Polisi di Tangerang
Dari Pos Satkamling ke Meja Ngopi, Kapolres Ajak Warga Bareng Jaga Lingkungan
Cegah Pelanggaran, Propam Polda Metro Jaya Gelar Ops Gaktibplin di Polres Metro Jakbar
Pemerintah Rampingkan Aturan dan Siapkan Banyak Insentif, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah
#Harapan
Mendung di Atas Cilegon: Antara Harapan, Pemuda, dan Jalan Panjang Pemerintahan
Nasional
1 minggu yang lalu
Dapur MBG di Sukoharjo Beri Ruang dan Harapan bagi Pekerja Penyandang Disabilitas
Nasional
2 bulan yang lalu
Harapan Baru Untuk Rumah Layak Huni, Satgas TMMD Kebut Program RTLH di Desa Mliwis
Nasional
2 bulan yang lalu
Titipan Harapan Diaspora ke Prabowo di World Economic Forum: Bawa Pemuda RI Mendunia
Nasional
3 bulan yang lalu
Siswi SMA Taruna Nusantara Titipkan Harapan Masa Depan kepada Prabowo: Indonesia Bisa Makin Maju
Nasional
14 January 2026
Becak Listrik dari Prabowo, Harapan Baru bagi Para Penarik Lansia di Trenggalek: Kami Dibesarkan dari Becak
Nasional
13 January 2026
*Menjaga Kesehatan, Menyemai Harapan Pascabencana Maninjau* Humas Kemenkes, Agam, Minggu 21 Desember 2025 Bencana datang tanpa aba-aba. Bagi Virginia (25), hari itu berakhir dengan keputusan paling berat: meninggalkan rumah di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, tanpa kepastian bisa kembali. Dalam gelap dan kepanikan, ia hanya menyelamatkan dokumen penting. Selebihnya lenyap tersapu banjir bandang, termasuk rumah dan sumber penghidupan. “Kami cuma sempat bawa dokumen. Dentuman dari kejauhan sudah terdengar. Air sudah melebar ke mana-mana,” tuturnya. Esok harinya, rumah itu tinggal puing. Virginia bersama tiga anaknya sempat berpindah-pindah, dari masjid hingga akhirnya menetap di posko pengungsian Pasar Rakyat Nagari Sungai Batang. Kehidupan di pengungsian menghadirkan persoalan baru. Udara dingin, debu, dan perlengkapan terbatas memicu berbagai gangguan kesehatan. Batuk, demam, dan nyeri otot kerap dikeluhkan, terutama oleh anak-anak. “Tempatnya terbuka, selimut seadanya, ditambah sekeliling banyak debu. Anak-anak jadi gampang batuk, saya pun sempat sepuluh hari demam,” ujarnya. Keluhan serupa disampaikan Nani (46), warga Nagari Bayua, yang mendatangi posko kesehatan bersama anaknya. “Saya sering pusing, mungkin karena ada rasa takut juga setelah bencana. Pinggang juga sering sakit. Anak saya gatal-gatal,” katanya. Kepala Puskesmas Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Ns. Hermalina, S.Kep., menjelaskan bahwa pola keluhan tersebut umum muncul pascabencana. “Kasus yang paling banyak kami tangani adalah ISPA, hipertensi, diare, penyakit kulit, mialgia, dan demam. Kondisi lingkungan, kelelahan, dan stress pascabencana sangat berpengaruh terhadap kondisi warga,” jelasnya. Menurut Hermalina, layanan kesehatan terus digerakkan melalui puskesmas, posko, layanan keliling, hingga kunjungan langsung ke lokasi pengungsian. “Kami berusaha memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan, meskipun dengan keterbatasan. Selama masih ada warga yang membutuhkan, kami akan tetap turun ke lapangan,” tegasnya.
Nasional
22 December 2025
Harapan Kepala Dusun Aceh Tamiang Usai Kehadiran Prabowo: Semoga Kami Tetap Diperhatikan
Nasional
13 December 2025
Haru dan Harapan Warga Aceh Tamiang Menanti Rumah Layak Pascabanjir Usai Ditengok Prabowo
Nasional
13 December 2025
Berdalih Kekurangan Debit Air, Harapan Warga Balaraja “Pupus” di Tangan PDAM Tigaraksa — Uang Rakyat Dikelola Untuk Siapa?
Daerah
30 October 2025
1
2
PAGE TOP