Kabar Bahri
Mengabarkan fakta Nusantara
17 Oktober 2026
Facebook
Twitter
Instagram
Nasional
Daerah
Pemerintahan
PEMDES
Politik
MILITER
Hukum & Kriminal
Umum
Olahraga
Kesehatan
Hot News
(AS) Oknum Calo Karyawan PT Nikomas Gemilang Ambil Uang DP 10.000.000 Di Laporkan Ke Satreskrim Polres Serang, Korban (SL) Minta Pelaku Segera Di Tangkap
Polri Ingatkan Bahaya Judi Online, Ajak Masyarakat Perkuat Pencegahan
Safari Jumat di Kedoya Utara, Wakapolres Jakbar Ajak Masyarakat Bersama Jaga Keamanan dan Kerukunan
FRIC DPC Kuningan: Kemitraan Pers Jangan Hanya Terjalin Saat Dibutuhkan
BP BUMN dan Danantara Kembangkan 12 Kota Masa Depan Indonesia
#Harapan
*Menjaga Kesehatan, Menyemai Harapan Pascabencana Maninjau* Humas Kemenkes, Agam, Minggu 21 Desember 2025 Bencana datang tanpa aba-aba. Bagi Virginia (25), hari itu berakhir dengan keputusan paling berat: meninggalkan rumah di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, tanpa kepastian bisa kembali. Dalam gelap dan kepanikan, ia hanya menyelamatkan dokumen penting. Selebihnya lenyap tersapu banjir bandang, termasuk rumah dan sumber penghidupan. “Kami cuma sempat bawa dokumen. Dentuman dari kejauhan sudah terdengar. Air sudah melebar ke mana-mana,” tuturnya. Esok harinya, rumah itu tinggal puing. Virginia bersama tiga anaknya sempat berpindah-pindah, dari masjid hingga akhirnya menetap di posko pengungsian Pasar Rakyat Nagari Sungai Batang. Kehidupan di pengungsian menghadirkan persoalan baru. Udara dingin, debu, dan perlengkapan terbatas memicu berbagai gangguan kesehatan. Batuk, demam, dan nyeri otot kerap dikeluhkan, terutama oleh anak-anak. “Tempatnya terbuka, selimut seadanya, ditambah sekeliling banyak debu. Anak-anak jadi gampang batuk, saya pun sempat sepuluh hari demam,” ujarnya. Keluhan serupa disampaikan Nani (46), warga Nagari Bayua, yang mendatangi posko kesehatan bersama anaknya. “Saya sering pusing, mungkin karena ada rasa takut juga setelah bencana. Pinggang juga sering sakit. Anak saya gatal-gatal,” katanya. Kepala Puskesmas Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Ns. Hermalina, S.Kep., menjelaskan bahwa pola keluhan tersebut umum muncul pascabencana. “Kasus yang paling banyak kami tangani adalah ISPA, hipertensi, diare, penyakit kulit, mialgia, dan demam. Kondisi lingkungan, kelelahan, dan stress pascabencana sangat berpengaruh terhadap kondisi warga,” jelasnya. Menurut Hermalina, layanan kesehatan terus digerakkan melalui puskesmas, posko, layanan keliling, hingga kunjungan langsung ke lokasi pengungsian. “Kami berusaha memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan, meskipun dengan keterbatasan. Selama masih ada warga yang membutuhkan, kami akan tetap turun ke lapangan,” tegasnya.
Nasional
22 December 2025
Harapan Kepala Dusun Aceh Tamiang Usai Kehadiran Prabowo: Semoga Kami Tetap Diperhatikan
Nasional
13 December 2025
Haru dan Harapan Warga Aceh Tamiang Menanti Rumah Layak Pascabanjir Usai Ditengok Prabowo
Nasional
13 December 2025
Berdalih Kekurangan Debit Air, Harapan Warga Balaraja “Pupus” di Tangan PDAM Tigaraksa — Uang Rakyat Dikelola Untuk Siapa?
Daerah
30 October 2025
*Ketua DPW KNAI Banten Titip Harapan Besar kepada Advokat Muda M. Aqil Bahri, S.H*
Nasional
27 September 2025
1
2
Back to top