Cilegon — kabarbahri.co.id Sebuah truk colt diesel dilaporkan terperosok ke dalam saluran drainase di salah satu ruas jalan yang baru selesai diperbaiki beberapa waktu lalu. Insiden yang terjadi pada Jumat, 29 Mei 2026, sekitar pukul 12.00 WIB itu memunculkan pertanyaan serius mengenai kualitas pekerjaan proyek dan pengawasan di lapangan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
Mobil Terjun ke Drainase, Proyek Baru Dipertanyakan: Mengapa Tutup Siring Bekas Masih Dipasang?

Menurut keterangan yang dihimpun di lokasi, kendaraan tersebut terjun setelah penutup drainase yang berada di sisi jalan diduga tidak mampu menahan beban kendaraan. Warga dan pengemudi menyoroti kondisi tutup drainase yang disebut-sebut merupakan material bekas yang sudah tidak layak digunakan.

“Kalau memang kondisinya sudah tidak layak, kenapa masih dipasang kembali? Ini bukan sekadar soal estetika proyek, tetapi menyangkut keselamatan pengguna jalan,” ujar sopir colt diesel kepada wartawan.

Peristiwa ini menjadi ironi tersendiri. Pasalnya, drainase tersebut merupakan bagian dari proyek infrastruktur yang baru dikerjakan beberapa bulan lalu. Namun, sebelum usia proyek genap setahun, kerusakan yang berpotensi membahayakan masyarakat sudah terjadi.

Lebih jauh, muncul pertanyaan mengenai fungsi pengawasan dalam pelaksanaan proyek. Jika benar material yang digunakan merupakan barang bekas dan sudah mengalami penurunan kualitas, mengapa hal itu lolos dari proses pemeriksaan? Apakah pengawasan hanya sebatas formalitas administrasi tanpa memastikan kualitas pekerjaan di lapangan?

Hingga berita ini ditulis, upaya konfirmasi kepada pihak pelaksana proyek maupun pengelola pekerjaan belum membuahkan hasil. Wartawan mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi pihak terkait sejak sore hingga malam hari, bahkan hingga keesokan paginya, namun belum memperoleh penjelasan resmi.

Sikap diam tersebut justru memperkuat kebutuhan akan transparansi. Sebab, publik berhak mengetahui apakah penggunaan material lama memang diperbolehkan dalam spesifikasi teknis proyek, atau justru merupakan bentuk penghematan yang berisiko mengorbankan keselamatan masyarakat.

Warga sekitar mengaku khawatir kondisi serupa dapat kembali terjadi. Lokasi tersebut kerap digunakan kendaraan untuk berhenti maupun parkir. Jika tutup drainase yang terpasang tidak memenuhi standar kekuatan, bukan tidak mungkin insiden serupa akan terulang dengan dampak yang lebih besar.

“Jangan sampai menunggu korban berikutnya baru ada tindakan. Kalau memang sudah terbukti tidak layak, seharusnya segera diganti dengan material baru yang sesuai standar,” kata seorang warga.

Proyek drainase yang disebut memiliki panjang mencapai ribuan meter itu semestinya menjadi contoh pembangunan yang memberikan manfaat dan rasa aman bagi masyarakat. Namun ketika sebuah penutup drainase ambruk hingga menyebabkan kendaraan terperosok, yang muncul bukan apresiasi, melainkan pertanyaan mengenai mutu pekerjaan, efektivitas pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran.

Pemerintah daerah maupun instansi terkait diharapkan segera melakukan evaluasi teknis di lokasi, termasuk memeriksa spesifikasi material yang digunakan. Infrastruktur dibangun bukan sekadar untuk selesai di atas kertas, melainkan untuk menjamin keselamatan warga yang setiap hari menggunakannya.

Jika benar tutup drainase yang ambruk merupakan material bekas yang sudah tidak layak pakai, maka persoalannya tidak lagi sekadar kerusakan konstruksi. Ini menyangkut tanggung jawab terhadap keselamatan publik dan kualitas pengelolaan proyek yang dibiayai dengan uang rakyat.

(Red)

Reporter: Pewarta