LEBAK – Kabarbahri.co.id
Tradisi Rengkong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan Masyarakat Adat Kasepuhan Citorek, Kabupaten Lebak, Banten. )tradisi yang merupakan salah satu kesenian khas masyarakat Sunda ini terus dilestarikan sebagai bagian dari prosesi mengangkut hasil panen padi dari sawah tangtu (sawah induk/sawah adat) menuju kawasan leuit Kasepuhan.(2/8/2026)
Prosesi Rengkong tidak hanya menampilkan keunikan bunyi yang dihasilkan dari bambu saat dipikul bersama, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur masyarakat adat atas hasil panen yang diperoleh.
Bagi Masyarakat Adat Kasepuhan Citorek, padi memiliki kedudukan yang sangat istimewa sehingga setiap tahapan, mulai dari menanam hingga menyimpan hasil panen, dilakukan sesuai aturan dan tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Hasil panen kemudian dibawa menuju kawasan leuit adat. Namun, sebagai warisan leluhur yang bersifat sakral dan merupakan ruang privat masyarakat adat, area leuit tidak dipublikasikan.
Hal tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang hingga kini masih dijaga dan dilestarikan.
Keberlangsungan tradisi Rengkong menjadi bukti bahwa masyarakat adat tetap mampu menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Tradisi ini juga menjadi pengingat bahwa nilai kebersamaan dan pelestarian budaya merupakan warisan yang harus terus dirawat oleh setiap generasi.
Masyarakat Adat Kasepuhan Citorek memaknai tradisi ini melalui pesan yang diwariskan para leluhur:
“Dari padi kita belajar bahwa padi yang hari ini dipanen bukanlah padi yang ditanam kemarin sore.”
ed”Dari Rengkong kita belajar bahwa kerja sama akan melahirkan harmoni, sebagaimana bunyi-bunyi khas yang tercipta saat Rengkong dipikul bersama.”(Red)














