JAKARTA, 27 Agustus 2026 — Di tengah dinamika aksi penyampaian pendapat di muka umum yang berlangsung di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026), suasana humanis terlihat ketika Kasat Binmas Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Anggara Sahadewa Wiritanaya, S.H., M.Si., menyempatkan diri berinteraksi langsung dengan sejumlah peserta aksi.
Alih-alih menggunakan pendekatan yang kaku, AKBP Anggara tampil komunikatif, ramah, dan humoris. Ia menyapa peserta aksi serta membangun komunikasi secara langsung sehingga suasana menjadi lebih cair.
Sekitar pukul 15.47 WIB, pendekatan humanis tersebut semakin terlihat ketika AKBP Anggara menawarkan makanan berupa otak-otak kepada beberapa peserta aksi. Salah seorang peserta aksi, Anggi (25), warga Jakarta Pusat, turut menerima makanan yang ditawarkan tersebut.
“Awalnya saya tidak menyangka ada anggota polisi yang menyapa dan menawarkan otak-otak kepada saya. Sikap Pak Anggara cukup humanis dan membuat suasana menjadi lebih cair. Bagi saya, ini menunjukkan bahwa polisi dan masyarakat bisa tetap berkomunikasi dengan baik meskipun sedang berada dalam situasi aksi,” ujar Anggi.
Menurut Anggi, komunikasi yang terbuka antara aparat dan peserta aksi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga suasana demonstrasi tetap aman dan kondusif.
“Menurut saya, pendekatan seperti ini sangat positif. Kami datang untuk menyampaikan aspirasi, sementara aparat menjalankan tugas pengamanan. Kalau komunikasinya baik dan tidak saling berhadap-hadapan, suasana aksi tentu bisa tetap aman, tertib, dan damai. Terima kasih, Pak Anggara, sudah menyambut kami dengan cara yang humanis,” katanya.
Momen sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa pengamanan aksi tidak selalu harus berlangsung dalam suasana tegang. Komunikasi, keramahan, dan sikap saling menghargai antara aparat dan masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menjaga penyampaian aspirasi tetap berlangsung tertib dan damai.
AKBP Anggara mengatakan, kehadiran aparat bukan semata-mata untuk melakukan pengamanan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dengan aman dan tertib.
“Kami hadir untuk menjaga keamanan sekaligus memastikan masyarakat dapat menyampaikan aspirasinya dengan aman, tertib, dan nyaman. Kami juga ingin membangun komunikasi yang baik dengan teman-teman peserta aksi, karena aparat dan masyarakat bukanlah pihak yang harus berhadap-hadapan,” ujar AKBP Anggara.
Ia menegaskan bahwa penyampaian pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dihormati. Karena itu, komunikasi yang baik dinilai menjadi salah satu kunci agar perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi ketegangan.
“Silahkan menyampaikan aspirasi dengan tertib. Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat. Yang terpenting, mari sama-sama menjaga suasana tetap damai dan saling menghormati,” tambahnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa humanisme dalam pengamanan tidak berarti mengurangi ketegasan dalam menjalankan tugas. Sebaliknya, komunikasi yang baik dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan sekaligus mencegah munculnya gesekan antara aparat dan masyarakat.
Dalam situasi aksi massa, sikap saling menghormati menjadi penting. Aparat menjalankan tugas pengamanan, sementara masyarakat menggunakan haknya untuk menyampaikan aspirasi. Keduanya dapat berjalan beriringan selama komunikasi dan ketertiban tetap dijaga.
“Kami tidak ingin ada jarak antara polisi dan masyarakat. Tugas kami adalah menjaga keamanan, tetapi menjaga keamanan juga harus dilakukan dengan hati dan komunikasi yang baik,” pungkas AKBP Anggara.
















