SERANG, BANTEN —kabarbahri.co.id- Polemik biaya Wisuda dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan kembali menjadi sorotan. Sejumlah mahasiswa dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) mempertanyakan besarnya biaya wisuda yang dinilai terlalu tinggi serta mempertanyakan transparansi sejumlah komponen yang tercantum dalam pembiayaan tersebut.
Sejumlah mahasiswa bahkan menduga pihak Humas Universitas Faletehan cenderung membatasi atau membungkam aspirasi mahasiswa dan BEM karena persoalan tersebut harus terlebih dahulu disampaikan kepada pihak Yayasan selaku pengelola universitas.
Dilansir dari situs resmi Media Nasional KabarBahri, biaya Wisuda dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan sebelumnya telah menjadi perhatian mahasiswa karena dinilai cukup besar dan tidak sebanding dengan manfaat atau fasilitas yang diterima.
Keluhan tersebut semakin mencuat setelah beredar Surat Pemberitahuan Wisuda dan Angkat Sumpah Universitas Faletehan Nomor 764/UF/BA/S/VIII/2026. Dalam surat tersebut, tercantum sejumlah komponen pembiayaan, antara lain:
1. Fasilitas penyelenggaraan Wisuda dan Angkat Sumpah;
2. Atribut Wisuda dan Angkat Sumpah;
3. Dokumentasi foto wisuda;
4. Konsumsi untuk 1 orang wisudawan dan 2 orang tua/wali wisudawan;
5. Pengelolaan ijazah, transkrip nilai, yudisium, dan foto ijazah;
6. Iuran alumni;
7. Sumbangan perpustakaan.
Masuknya iuran alumni dan sumbangan perpustakaan ke dalam komponen biaya wisuda kemudian menjadi pertanyaan di kalangan mahasiswa, BEM, maupun netizen.
Salah satu komentar netizen yang dikutip dari kolom komentar TikTok Media Nasional KabarBahri pada Selasa, 8 September 2026, mengatakan: “Faletehan kekurangan dana kah sampai wisuda 3 jt/orang wkwkw.” Identitas netizen tersebut tidak disebutkan.
Persoalan biaya tersebut juga menjadi perhatian karena sebelumnya Universitas Faletehan menerima mahasiswa yang memperoleh bantuan biaya pendidikan dari pemerintah. Mahasiswa menilai kondisi tersebut semestinya menjadi pertimbangan karena pihak universitas dan yayasan dinilai telah mengetahui bahwa terdapat banyak mahasiswa yang berasal dari kelompok penerima bantuan pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
Aspirasi BEM Disebut Belum Mendapat Tanggapan
BEM Universitas Faletehan sebelumnya telah mengajukan permohonan kepada pihak kampus terkait persoalan biaya wisuda. Namun, hingga saat ini, mahasiswa menyebut belum memperoleh tanggapan lebih lanjut dari pihak kampus maupun rektorat.
Aspirasi juga telah disampaikan melalui salah satu grup WhatsApp yang beranggotakan mahasiswa, kepala program studi, sekretaris program studi, wakil dekan sekaligus Humas Universitas Faletehan, dosen, serta pihak fakultas.
Namun, respons yang diterima mahasiswa justru menimbulkan pertanyaan.
Kepala Program Studi disebut menyampaikan: “Kebijakan terkait Wisuda, diluar kewenangan Prodi.” Pernyataan tersebut dikutip dari informasi dalam grup WhatsApp pada Selasa, 8 September 2026.
Kemudian, Wakil Dekan sekaligus Humas Universitas Faletehan disebut memberikan tanggapan: “Ini udah jelas yah. Kalo menurut saya mah.” Pernyataan tersebut juga dikutip dari informasi dalam grup WhatsApp pada Selasa, 8 September 2026.
Respons dari Ketua Program Studi dan Wakil Dekan sekaligus Humas Universitas Faletehan tersebut kemudian menjadi pertanyaan bagi mahasiswa.
Sejumlah mahasiswa menduga jawaban tersebut tidak memberikan penjelasan mengenai substansi yang mereka pertanyakan, khususnya terkait keberadaan iuran alumni dan sumbangan perpustakaan dalam komponen biaya wisuda.
Salah seorang mahasiswa dalam grup WhatsApp lain kemudian menyampaikan: “Tau sih bukan wewenang prodi, tapi kan maksudnya mereka juga rapat masa iya gatau maksud dari iuran alumni. Padahal pengen tau aja iuran alumni tuh larinya kemana. Tahun kemarin gada iuran alumni gada biaya perpustakaan.” Pernyataan tersebut dikutip dari grup WhatsApp pada Selasa, 8 September 2026.
Humas Baru Menghubungi Media Setelah Berita Viral
Persoalan tersebut kemudian diangkat oleh wartawan melalui situs resmi Media Nasional KabarBahri sebagai bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa dan BEM yang sebelumnya disebut belum mendapatkan tanggapan.
Setelah pemberitaan tersebut viral dan mendapat perhatian dari banyak netizen, Humas Universitas Faletehan kemudian menghubungi pihak media.
Dalam komunikasi tersebut, Humas Universitas Faletehan menyampaikan: “Kamu masih mahasiswa UF geh val. Kan perwakilan mahasiswa itu adalah BEM dan BEM sudah menyampaikan ke WR.1 dari Pak WR.1 pun akan sampaikan ke Yayasan. Selaku yg punya kampus UF. Ibarat anak sama orangtua. Anaknya itu kita fal (mahasiswa dan karyawan) orangtuanya itu Yayasan kita. Sabar yah infonya besok Pimpinan akan menghadap ke Yayasan membawa aspirasi dr temen-temen BEM. Iyah aspirasi itu akan dibawa besok ke rapat dengan Yayasan fal.” Pernyataan tersebut dikutip dari percakapan Humas Universitas Faletehan dengan salah satu mahasiswa sekaligus media pada Rabu, 9 September 2026.
Pernyataan tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan baru di kalangan mahasiswa dan media.
Mahasiswa dan media menduga Wakil Dekan sekaligus Humas Universitas Faletehan belum memberikan penjelasan secara langsung mengenai aspirasi yang telah disampaikan mahasiswa dan BEM. Selain itu, muncul pertanyaan mengapa aspirasi tersebut baru disebut akan dibawa kepada pimpinan untuk diteruskan kepada Yayasan setelah pemberitaan mengenai persoalan biaya wisuda menjadi viral.
Padahal, berdasarkan informasi yang disampaikan mahasiswa, aspirasi mengenai biaya wisuda telah disuarakan sebelumnya melalui BEM maupun grup WhatsApp yang melibatkan sejumlah unsur akademik dan fakultas.
Kondisi tersebut membuat mahasiswa mempertanyakan mekanisme penyampaian aspirasi di lingkungan Universitas Faletehan, termasuk sejauh mana pihak fakultas dan Humas dapat memberikan penjelasan kepada mahasiswa terkait kebijakan yang menjadi keresahan bersama.
Humas berjanji memberikan jawaban pada Kamis 10 September 2026. Hingga berita ini disusun, belum ada jawaban maupun informasi lebih lanjut dari Wakil Dekan sekaligus Humas Universitas Faletehan mengenai persoalan tersebut.
Sebelumnya, pada Rabu, 9 September 2026, Humas Universitas Faletehan menyampaikan bahwa persoalan tersebut akan segera ditindaklanjuti dengan membawa aspirasi mahasiswa dan BEM dalam rapat bersama Yayasan.
Humas juga menyampaikan bahwa informasi dan jawaban lebih lanjut akan diberikan setelah proses tersebut dilakukan, yang dijanjikan akan ditindaklanjuti pada hari berikutnya, Kamis, 10 September 2026.
Dilansir dari situs resmi Media online Satelit News, Ikatan Alumni Faletehan atau IKAFA memberikan klarifikasi. Ketua IKAFA, Eri Sunarya, menegaskan bahwa organisasi alumni tidak pernah menerima, mengambil, maupun mengelola dana yang tercantum sebagai iuran alumni dalam pembiayaan kegiatan wisuda tersebut.
Dilansir dari situs resmi Media online Satelit News, “IKAFA belum pernah menerima dana yang disebut sebagai iuran alumni dalam rincian biaya wisuda. Selama ini seluruh kegiatan yang dilakukan oleh IKAFA berjalan melalui kerja keras dan swadaya para alumni dari setiap kepengurusan.” Dikutip dari situs resmi Media online Satelit News ujar Eri, Rabu (9/9/2026).
Kemudian melanjutkan lansiran dari situs resmi Media online Satelit News, “Per hari ini kami dari IKAFA tidak pernah mengambil anggaran yang ada di kampus. Selama ini kami sebagai ikatan alumni hanya melakukan berbagai kegiatan yang sifatnya membantu kampus maupun mahasiswa agar lebih progresif dalam menjadikan almamater lebih baik ke depan.” Dikutip dari situs resmi Media online Satelit News ujar Zidan, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa “Untuk kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan, semuanya menggunakan swadaya para alumni. Tidak ada dana iuran alumni yang kami terima maupun kelola.” Dikutip dari situs resmi Media online Satelit News ujar Zidan, Rabu (9/9/2026).
Sehingga berita klarifikasi terkait Wisuda dan Iuran Alumni yang di ucapkan Zidan, menimbulkan pertanyaan mahasiswa lain. “Maksudnya gimana ini? Swadaya alumni bukannya bersifat sukarela? Emang sih ga ada dana iuran alumni. Tapi kenapa masuk rincian wisuda?” Dikutip dari chat grup WhatsApp, salah seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya, Rabu, 09/09/26.
“Mau pake alesan apalagi? Lagian dana ±3M dibuat wisuda ga kebayang se-megah apa itu ceremonialnya. Dimintai transparansi ga dikasih tu piyee” Dikutip dari chat grup WhatsApp lainnya, salah seorang mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya pada Rabu, 09/09/26.
Fitur Kirim Pesan Hanya Admin (atau sering disebut fitur Restricted Group / Pembatasan Grup) pada grup WhatsApp yang terdiri dari Dosen, Ketua Program Studi, Sekretaris Program Studi, Wakil Dekan sekaligus Humas, Pegawai Fakultas dan Mahasiswa-pun di aktifkan. Media menduga aspirasi mahasiswa tidak akan didengarkan.
Mahasiswa kini menunggu kejelasan dari pihak Universitas Faletehan dan Yayasan, khususnya mengenai dasar penetapan biaya Wisuda dan Angkat Sumpah, keberadaan iuran alumni dan sumbangan perpustakaan dalam komponen biaya tersebut, serta transparansi pengelolaannya.
Hingga saat berita ini diterbitkan, awak media kabar Bahri belum terdapat tanggapan resmi dari pihak Universitas Faletehan terkait keluhan mahasiswa mengenai besaran biaya wisuda,rincian alokasi biaya, iuran alumni, sumbangan perpustakaan, maupun permintaan keringanan biaya tersebut.
Pemberitaan ini disusun berdasarkan aspirasi dan pernyataan mahasiswa serta komentar netizen yang dihimpun dari sejumlah grup WhatsApp dan kolom komentar media sosial. Berbagai pernyataan mengenai dugaan ketidaktransparanan maupun keberatan terhadap fasilitas merupakan pendapat dan aspirasi dari pihak yang menyampaikannya.
Media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak Universitas Faletehan maupun pihak terkait untuk memberikan penjelasan mengenai kebijakan, dasar penetapan biaya, rincian komponen biaya, serta penggunaan dana wisuda tersebut. Klarifikasi tersebut akan menjadi bagian penting dalam pemberitaan agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berimbang.















