CILEGON — kabarbahri.co.id Kekecewaan terhadap respons pemerintah daerah mencuat dari keluarga korban dugaan pelemparan bom molotov yang menyebabkan seorang remaja mengalami luka bakar. Di tengah proses pemulihan korban, keluarga menilai empati dan kehadiran pemerintah justru tidak terlihat ketika warganya membutuhkan perhatian.
Asep, ayah korban, menyampaikan keluhannya kepada awak media pada Minggu, 31 Mei 2026. Dengan nada kecewa, ia mempertanyakan sikap para pemangku kebijakan yang dinilainya belum menunjukkan kepedulian secara langsung terhadap kondisi anaknya.
“Sejatinya seorang pemimpin, mulai dari lurah, camat sampai wali kota, datang melihat kondisi anak saya. Jangan seolah-olah tidak tahu bahwa ada warga yang sedang membutuhkan dukungan dari pemerintahnya,Apa mungkin karena di dalam lorong lorong rumah korban jadi malas turun ” ujar Asep.
Menurut dia, perbedaan respons pemerintah terlihat sangat kontras. Ketika terjadi insiden yang melibatkan sektor industri, para pejabat dinilai bergerak cepat turun ke lapangan. Namun saat seorang warga menjadi korban peristiwa yang menimbulkan luka serius, perhatian yang sama dinilai tidak tampak.
“Waktu ada pabrik kimia meledak, pemimpin nomor satu di Cilegon langsung turun. Giliran ada bom molotov yang melukai warga, justru terkesan diam dan seolah tidak tahu,” katanya.
Pernyataan itu menjadi kritik yang lebih luas terhadap cara sebagian pemimpin memaknai kehadiran negara di tengah masyarakat. Sebab, ukuran kepemimpinan tidak semata diukur dari kecepatan merespons peristiwa yang menyedot perhatian publik atau berdampak pada sektor ekonomi, melainkan juga dari keberpihakan terhadap warga biasa yang sedang menghadapi musibah.
Dalam pandangan Asep, kehadiran pemerintah bukan hanya soal bantuan materi. Lebih dari itu, kehadiran secara fisik dan moral memiliki arti penting bagi keluarga korban yang sedang menghadapi masa sulit.
Peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan mendasar tentang prioritas pelayanan publik. Apakah perhatian pemerintah lebih mudah hadir ketika sebuah peristiwa memiliki dampak besar terhadap kepentingan industri dan citra daerah, sementara tragedi yang menimpa warga biasa harus berjuang sendiri untuk mendapatkan perhatian?
Seorang pemimpin, pada hakikatnya, tidak hanya hadir saat kamera menyala dan sorotan publik mengarah. Kepemimpinan justru diuji ketika ada warga kecil yang terluka, ketika keluarga korban menunggu kepedulian, dan ketika empati harus dibuktikan dalam tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.
Asep mengaku berharap pemerintah daerah dapat menunjukkan kepedulian yang lebih nyata terhadap korban dan keluarga. Menurutnya, kehadiran pemimpin di tengah masyarakat yang sedang tertimpa musibah bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kewajiban moral yang melekat pada jabatan yang mereka emban.
“Yang kami harapkan bukan hal yang muluk-muluk. Datang, melihat kondisi korban, memberi semangat. Itu saja sudah menunjukkan bahwa pemerintah hadir untuk rakyatnya,” ujarnya.
Di tengah luka yang masih membekas, keluarga korban kini menunggu satu hal yang menurut mereka jauh lebih berharga daripada sekadar seremoni: kehadiran dan empati dari para pemimpin yang dipilih untuk melayani masyarakat.
(Tim Jr)















