CILEGON – kabarbahri.co.id Di tengah mencuatnya sejumlah keluhan terkait aktivitas alat breaker pada malam hari, muncul pula pandangan dari sebagian warga Lingkungan Cigobang Pancur, Kelurahan Randakari, Kecamatan Ciwandan, yang menilai hubungan antara masyarakat dengan PT Delimas Lestari Jaya selama ini terjalin secara harmonis dan komunikatif.
Pandangan tersebut mengemuka saat dilakukan konfirmasi di kantor PT Delimas Lestari Jaya pada Senin (6/7/2026). Sejumlah warga menyampaikan bahwa perusahaan dinilai tidak hanya menjalankan aktivitas operasionalnya, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap kebutuhan sosial masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Ketua RT 01 Cigobang Pancur, Ahmad Sujai, mengatakan keberadaan perusahaan selama ini memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan. Selain membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar, perusahaan juga dinilai responsif terhadap berbagai kebutuhan warga.
“Kalau menurut saya hubungan perusahaan dengan lingkungan cukup baik. Setiap ada permintaan untuk kepentingan masyarakat selalu direspons dengan cepat,” ujarnya.
Menurut Ahmad Sujai, bantuan yang diberikan perusahaan tidak terbatas pada kebutuhan pembangunan infrastruktur lingkungan, seperti penyediaan abu batu untuk jalan maupun rumah warga, tetapi juga menyentuh aspek sosial kemasyarakatan.
Ia menyebut perusahaan kerap memberikan dukungan terhadap kegiatan keagamaan, membantu kebutuhan masjid, hingga hadir memberikan bantuan ketika ada warga yang mengalami musibah.
“Kalau masyarakat membutuhkan abu batu atau bantuan lainnya, biasanya saya sampaikan ke perusahaan dan mereka cepat merespons. Bahkan saat ada warga meninggal dunia, pihak perusahaan sering langsung datang membantu,” katanya.
Menyinggung adanya keluhan sebagian warga mengenai aktivitas breaker, Ahmad Sujai mengakui dirinya sempat menerima laporan tersebut. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, keberatan warga telah disampaikan sebanyak dua kali dalam kurun waktu sekitar dua pekan terakhir.
Meski demikian, ia berpandangan penyelesaian terbaik adalah melalui dialog terbuka dengan pihak perusahaan agar setiap aspirasi dapat didengar dan dicarikan solusi bersama.
“Dari awal saya selalu menganjurkan warga datang ke kantor perusahaan untuk membicarakannya langsung dengan pimpinan agar ada penyelesaian yang baik,” tuturnya.
Senada dengan itu, warga Cigobang Pancur, Hanafi, menjelaskan bahwa operasional alat breaker pada malam hari bukanlah kebijakan yang baru, melainkan telah diatur dalam kesepakatan bersama antara perusahaan dan masyarakat sejak tahun 2013.
Menurutnya, kesepakatan tersebut lahir setelah aktivitas blasting dihentikan dan digantikan dengan penggunaan alat breaker sebagai metode operasional.
“Kesepakatan itu sudah lama dibuat dan diketahui oleh para perwakilan warga. Selama ini juga aktivitas breaker biasanya berhenti sekitar pukul 21.30 malam. Itu sudah berjalan bertahun-tahun,” jelas Hanafi.
Ia menambahkan, pola operasional tersebut telah berlangsung sejak masa pengelolaan perusahaan sebelumnya, mulai dari era Holcim hingga kini dilanjutkan oleh PT Delimas Lestari Jaya. Penggunaan breaker, menurutnya, menjadi alternatif yang dipilih setelah aktivitas peledakan tidak lagi dilakukan.
Hanafi berharap apabila di kemudian hari muncul persoalan di lapangan, seluruh pihak dapat mengedepankan komunikasi dan musyawarah agar hubungan baik yang telah terjalin selama ini tetap terjaga.
Perbedaan pandangan yang berkembang di tengah masyarakat dinilai merupakan bagian dari dinamika sosial yang wajar. Karena itu, ruang dialog antara perusahaan, pemerintah setempat, tokoh masyarakat, dan warga menjadi penting untuk memastikan aktivitas operasional tetap berjalan sesuai kesepakatan yang telah ada sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan.
Sementara itu, jajaran Polsek Ciwandan melalui anggota Unit Intelkam turut hadir dan menunjukkan respons cepat terhadap aspirasi masyarakat. Kehadiran aparat kepolisian tersebut diapresiasi sebagai langkah preventif dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sehingga setiap persoalan dapat diselesaikan secara kondusif melalui pendekatan komunikasi, dialog, dan musyawarah.
(Tim Cilegon)













