KABARBAHRI.CO.ID | Kabupaten Tangerang — Setelah kurang lebih dua puluh lima tahun berada dalam kondisi yang belum mengalami penataan dan pembangunan secara optimal, Pasar Segitiga Balaraja atau kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai Eks Terminal Balaraja kini kembali menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat. Semangat untuk membangkitkan kawasan strategis tersebut mulai menguat melalui penyatuan organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, para sepuh, serta warga Balaraja.

Scroll Untuk Lanjut Membaca
25 Tahun Terbengkalai, Pasar Segitiga Balaraja Didorong Menjadi Simbol Kebangkitan Ekonomi dan Persatuan Masyarakat

Gerakan tersebut diinisiasi oleh Forum Masyarakat Peduli Balaraja (FMPB) melalui sebuah pertemuan di RM Manceuri yang bertujuan menyatukan visi, gagasan dan langkah bersama demi mendorong perubahan wajah Balaraja, khususnya terhadap kawasan Eks Terminal atau Pasar Segitiga Balaraja yang dinilai telah terlalu lama tertinggal dalam proses pembangunan.

Pertemuan itu bukan sekadar ajang silaturahmi. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi wujud kepedulian masyarakat yang tumbuh dari bawah atau bottom up, sebagai bentuk aspirasi bersama agar persoalan penataan kawasan Pasar Segitiga Balaraja tidak terus berlarut tanpa arah dan kepastian.

Sejumlah organisasi kemasyarakatan turut hadir dan menyatakan kepeduliannya terhadap masa depan Balaraja. Di antaranya Pemuda Pancasila (PP), LMPI, PPBNI Satria Banten, BPPKB Banten, LMP, Badak Banten, Satgas Banten TTKKDH, LAPBAS hingga GRIB.

Kehadiran berbagai organisasi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan pembangunan dan masa depan Balaraja bukan hanya menjadi kepentingan satu golongan atau kelompok tertentu. Beragam elemen yang selama ini memiliki latar belakang organisasi berbeda kini mencoba duduk bersama dalam satu semangat, yakni kepentingan Balaraja dan masyarakatnya.

Pasar Segitiga Balaraja memiliki posisi yang cukup strategis. Namun, masyarakat menilai potensi kawasan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Selama kurang lebih 25 tahun, kawasan itu disebut mengalami kondisi stagnan dan belum berkembang sebagaimana harapan masyarakat.

Kondisi fisik dan lingkungan kawasan pun menjadi salah satu perhatian. Infrastruktur dinilai memerlukan pembenahan, penataan kawasan belum berjalan optimal, kebersihan perlu ditingkatkan, sementara kondisi lingkungan yang semrawut serta persoalan bau turut dikeluhkan dan menjadi perhatian masyarakat.

Di sisi lain, terdapat sekitar 30 pedagang yang telah memiliki kontrak atau menempati kios di kawasan tersebut. Mereka tentu menjadi bagian penting yang harus diperhatikan dalam setiap rencana penataan dan pengembangan ke depan. Kepastian mengenai masa depan kawasan diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan sekaligus meningkatkan kenyamanan pedagang dan masyarakat.

Menurut Dodi Farrurozi, selaku inisiator sekaligus pimpinan FMPB, gerakan tersebut tidak dibangun untuk membawa kepentingan satu organisasi maupun kepentingan pribadi. Seluruh pihak yang hadir, kata dia, memiliki tujuan yang sama, yakni menyatukan kekuatan masyarakat untuk mendorong perubahan.

“Ini bukan gerakan satu kelompok dan bukan untuk kepentingan pribadi. Kita berkumpul karena memiliki kepedulian yang sama. Semua bergerak atas nama Balaraja dan untuk masa depan masyarakat Balaraja,” ujar Dodi.

Ia menegaskan, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat membangun kekuatan bersama dengan mengedepankan semangat gotong royong, musyawarah dan persatuan.

“Bareng-bareng urang kabehan. Sudah terlalu lama Balaraja seperti tertidur. Sekarang waktunya kita bangun, duduk bersama, menyatukan gagasan dan bergerak bersama untuk perubahan,” tegasnya.

Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari salah seorang sepuh Balaraja, Abah Engkos Kosasih atau Abah Kosasih. Menurutnya, keinginan untuk melakukan perubahan terhadap kawasan Pasar Segitiga Balaraja sebenarnya bukan persoalan baru.

Ia mengungkapkan, aspirasi mengenai penataan dan pengembangan kawasan tersebut telah beberapa kali disampaikan dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun hingga kini, masyarakat masih menantikan adanya langkah konkret.

“Saya sudah beberapa kali membawa dan menyampaikan gagasan perubahan kawasan ini, termasuk melalui Musrenbang. Kurang lebih sudah empat kali. Karena itu, saya sangat mendukung ketika sekarang masyarakat dan berbagai elemen mulai bersatu. Kalau kita bergerak bersama, suara masyarakat tentu akan semakin kuat dan pemerintah bisa melihat bahwa ini memang kebutuhan bersama,” kata Abah Kosasih.

tata ruang, kelayakan lingkungan, kebersihan, infrastruktur serta keberlanjutan pengelolaan kawasan.

Masyarakat juga menilai Balaraja memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan identitas daerah. Nilai sejarah Tangsi, keberadaan Pasar Belanda atau Pasar Segitiga Balaraja, posisi Balaraja sebagai wilayah penghubung sejumlah daerah, sejarah pendidikan dan sekolah guru, jejak pemerintahan, hingga kekayaan seni dan budaya menjadi potensi yang dinilai perlu dirawat dan dikembangkan.

Berbagai potensi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari gagasan besar membangun “Balaraja Hebat Jasa”, sebuah semangat pembangunan yang tidak melepaskan akar sejarah, namun tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan masa depan.

Gerakan yang dibangun FMPB bersama berbagai elemen masyarakat tersebut pada akhirnya membawa pesan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu datang dari atas. Aspirasi masyarakat dapat tumbuh dari bawah, kemudian diperjuangkan melalui cara-cara yang konstruktif, dialogis dan mengedepankan musyawarah.

Ke depan, FMPB bersama tokoh masyarakat, para sepuh, organisasi kemasyarakatan dan unsur masyarakat lainnya berharap aspirasi mengenai kebangkitan Pasar Segitiga Balaraja dapat memperoleh ruang dialog dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan.

Persatuan yang kini mulai dibangun diharapkan tidak berhenti sebatas pertemuan dan wacana. Lebih jauh, semangat tersebut diharapkan menjadi kekuatan bersama untuk mengawal lahirnya perencanaan, komunikasi dan langkah nyata demi masa depan Balaraja.

Setelah kurang lebih seperempat abad berada dalam kondisi yang belum menunjukkan perkembangan maksimal, Pasar Segitiga Balaraja kini kembali didorong untuk bangkit. Bukan hanya sebagai kawasan perdagangan, melainkan sebagai salah satu simbol kebangkitan ekonomi, identitas sejarah dan persatuan masyarakat Balaraja.

Dengan semangat “Bareng-bareng urang kabehan”, berbagai elemen masyarakat mengajak seluruh pihak untuk menanggalkan kepentingan kelompok dan membangun satu tujuan bersama.

Sebab Balaraja bukan milik satu golongan, bukan milik satu organisasi dan bukan pula milik segelintir pihak. Balaraja adalah milik bersama, sehingga masa depannya pun harus diperjuangkan dan dibangun secara bersama-sama.

Reporter: S Eman